Lagi Males Nulis
Saat ini lagi males nulis. Ok!
Di Istana Sultan Demak
Konon, Nasruddin pernah berkunjung ke Tanah Jawa. Itu terjadi ketika ia masih muda dan penuh jiwa petualangan. Ketika itu ia ikut sebuah kapal dagang yang berlayar ke Timur Jauh, dan dalam perjalanan pulang ke Turki, kapal itu kebetulan mampir di sebuah bandar di pesisir utara Jawa.
Pada zaman itu, kehebatan Sultan Demak sudah didengarnya, karena itu kesempatan tersebut dipergunakan sebaik-baiknya untuk berkenalan langsung dengan Sultan.
Nasruddin mendapat keterangan bahwa Sultan tidak berkeberatan menerimanya, sebab ia pun ingin berkenalan dengan pemuda Turki yang terkenal cerdas itu. Sebelum menghadap, Nasruddin mendapat keterangan terinci mengenai tata tertib keraton Jawa. Antara lain dikatakan oleh pegawai istana, "Nasruddin, kau harus selalu menyembah setiap kali berbicara dengan Sultan!" Lalu ia pun diajar bagaimana melakukan sembah.
Di depan Sultan, Nasruddin duduk bersila dengan tertib. "Kau yang bernama Nasruddin?" tanya Sultan.
"Benar, Yang Mulia," jawab Nasruddin sambil menyembah.
"Kau tinggal dimana?"
"Di Akshehir, Yang Mulia," jawabnya terus tetap menyembah tertib.
"Dekat Masjid Agung?" tanya Sultan.
Nasruddin ingin menunjukkan lokasi masjid di kotanya itu, tetapi ia ingat bahwa harus tetap menyembah kalau berbicara dengan Sultan; jadi ia menunjuk dengan kaki kanannya sambil berkata, "Masjid di sebelah sini, Yang Mulia."
"Dekat pasar?" tanya Sultan lagi.
"Pasar di sebelah sini, Yang Mulia," sambil berkata itu Nasruddin menunjuk dengan kaki kirinya, jadi sekarang kedua kakinya mekangkang.
"Dekat kelurahan?" tanya Sultan.
Nasruddin mulai bingung, ia harus menunjukkan tempat tetapi kedua tangannya untuk menyembah. Akhirnya tangannya yang kanan tetap nempel di hidung, yang sebelah kiri menunjuk, "Kelurahan di sebelah situ, Yang Mulia."
"Lantas, rumahmu sebelah mana?"
Tak ada lagi anggota badannya yang bisa dipakai untuk menunjukkan lokasi rumahnya. Akhirnya dikatakannya, "Rumah hamba di sebelah sana, Yang Mulia," dan sambil berkata itu ia meludah, tepat jatuh di hadapan Sultan. ( Humor Sufi Sapardi dd)
Daripada kosong nggak diisi, saya pingin ngisi cerita-cerita humor tentang abu nawas alias nasruddin. So check it out!
Di dalam Masjid
Nasrudin sedang berada di masjid, duduk khusyuk berdoa di deretan orang-orang yang alim. Tiba-tiba, salah seorang di antara mereka nyeletuk: "Aku ragu, jangan-jangan, kompor di rumah masih menyala."Orang yang duduk di sebelahnya berkata: "Dengan bicara begitu, doamu batal, lho. Kamu harus mulai lagi dari awal.""Kamu juga," kata orang yang duduk di sebelah orang kedua ini."Alhamdulillah," kata Nasrudin keras-keras, "untung, aku tidak bicara."
Wah, acara bakar sate hari sabtu kemaren gagal. Masalahnya, Kakek istri saya yang rencananya kebagian motong sapi masuk rumah sakit. Masalahnya, dia kecapean karena beberapa malam sebelumnya kurang istirahat karena mempersiapkan idul qurban di masjid dekat rumah.
Waktu hari H pemotongan, baru berhasil motong satu ekor sapi, trus terkena gangguan jantung. So, perlu buru-buru dibawa ke Rumah Sakit Medika Permata Hijau dan perlu dirawat di IGD. Sampai hari ini (selasa, 25 Januari 2005) masih dirawat di rumah sakit. Alhamdulillah sudah mulai membaik, alat bantu pernapasannya sudah dilepas.
smoga cepat sembuh, meski kecewa juga gagal bakar sate....ya...inilah hidup.
Kemaren saya melaksanakan sholat Idul Adha untuk yang kedua kalinya di Jakarta, tempat tinggal istri. Meskipun di Jakarta ada dua versi sholat Id (tgl 20 Januari dan 21 Januari, saya ikut yang tanggal 21 Januari), tapi nggak masalah, lancar-lancar saja. Biasa, sholat dimulai sekitar jam 7 pagi.
Terus, siang harinya bakar-bakar sate di Tebet, tempat nenek istri saya (dari pihak ibu). Yach lumayan banyak, sampai sakit perut n kepala puyeng. Mumpung gratis n setahun sekali.
Dan hari ini rencananya bakar-bakar sate mo dilanjutin di Keboran Lama, tempat nenek istri saya (dari pihak bapak). pesta...pesta...!
kapan lagi
Jakarta mulai lagi kebanjiran, padahal cuman diguyur hujan selama dua hari. Hujannya pun tidak terlalu deras, sebentar berhenti terus hujan lagi begitu terus selama dua hari. Eh, nggak tahunya banjir di beberapa tempat.
Tempat saya tinggal n kantor tempat bekerja sih, tidak banjir. Di Kampung Melayu terendam banjir 2 meter lebih, di Petamburan se-dada orang dewasa. Kasihan, emang Jakarta banyak masalah, sebanyak masalah orang-orang yang mengurus kota Jakarta.
Ya, harapannya yang kena banjir sabar-sabar aja atawa kalo perlu demo ke kantor gubernur DKI supaya ngurusin banjir jangan cuman "Bus Way" doang... Gitu.
Akhirnya jelas sudah penantian hampir 3 bulan dalam proses rekrutmen pegawai LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), setelah hasil test akhir yang diumumkan pada tanggal 12 Januari 2005 mencantumkan nama istri saya, Firda Aulya Syamani, STP sebagai salah satu kandidat yang lolos menjadi pegawai LIPI.
Namun, saat ini belum tahu nantinya akan ditempatkan di daerah mana. Pilihannya soalnya bisa di seluruh Indonesia. Ya, berdoa aja semoga masih dekat, seputar Jabotabek lah..
Sekarang saya dah di kantor baru, di PT. Temprint (unit percetakan dari group Tempo Media) per 10 Januari 2005, tepat di hari ultah saya yang ke 29. Sebelumnya saya kerja di PT. Santosa Agrindo (unit RPH dari group Austasia) selama 6 bulan (mulai 2 Juni 2004 - 8 Januari 2005).
Bidang kerjanya masih belum berubah (kali ntar bisa berubah ya..), urusan HR Management. Masih banyak hal yang mesti dipelajari, so dengan bekerja di tempat yang berbeda-beda wawasannya jadi nambah. gitu...
Sudah ya, ntar disambung lagi. cu